<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>De_Qu</title>
	<atom:link href="http://dedyqurniawan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dedyqurniawan.wordpress.com</link>
	<description>Talk About Anything I Want ...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 05:13:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dedyqurniawan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/8376cba0efce88b171f5f30b3a679456?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>De_Qu</title>
		<link>http://dedyqurniawan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dedyqurniawan.wordpress.com/osd.xml" title="De_Qu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dedyqurniawan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jiwa di dalam Modernitas</title>
		<link>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/07/jiwa-di-dalam-modernitas/</link>
		<comments>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/07/jiwa-di-dalam-modernitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 05:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedyqurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kebebasan. Modernitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedyqurniawan.wordpress.com/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[Zaman gila macam apa ini. Saban hari kita dicecar informasi. Jejaring sosial, koran, televisi, buku, sms, email dan banyak jenis lainnya yang luput kusebutkan. Semuanya informasi dalam banyak ragam. Hari ini, kita begah. Anehnya, oleh teknologi, kita seperti dipaksa untuk merasa tak pernah cukup, tanpa sadar kita seperti dipaksa (dianggap) kelaparan di lumbung informasi. Sambil <a href="http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/07/jiwa-di-dalam-modernitas/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedyqurniawan.wordpress.com&amp;blog=11412227&amp;post=602&amp;subd=dedyqurniawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Zaman gila macam apa ini. Saban hari kita dicecar informasi. Jejaring sosial, koran, televisi, buku, sms, email dan banyak jenis lainnya yang luput kusebutkan. Semuanya informasi dalam banyak ragam. Hari ini, kita begah. Anehnya, oleh teknologi, kita seperti dipaksa untuk merasa tak pernah cukup, tanpa sadar kita seperti dipaksa (dianggap) kelaparan di lumbung informasi. Sambil memegang <em>blackberry</em> dan menjatuhkan penilaianku padanya, sejenak aku berpikir : “jadi ini, salah satu kebebasan yang ditawarkan oleh Demokrasi yang ironisnya justru memenjarakan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Badai ini—aku menyebut apa yang ditimpakan oleh Demokrasi kepada negara-negera berkembang seperti kita sebagai “badai”&#8211; didukung atau bahkan dikungkung oleh demokrasi yang memberikan kita kebebasan sebagai salah satu ciri khasnya. Secepat kedipan mata, kita bisa dengan mudah mengalihkan perhatian dari satu <em>headline</em> ke <em>headline</em> lain yang mungkin lebih menarik. Hari ini, kita menjadi terbiasa pada kejahatan<em> blue (white) collar</em>, bencana atau bahkan perang. Belum lagi soal politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya dan aspek-aspek lainnya. Kita bebas memilih, sesuai selera sesuai kebutuhan, tapi anehnya kita seperti kewalahan. Belum termasuk, soal urusan masing-masing yang membuat kita menjadi jauh lebih masing-masing. Kita menjadi lebih cepat abai. Ilmuan mengatakan bahwa hari ini, otak kita menjadi lebih cepat lelah, yang mungkin ini adalah salah satu efek tidak langsung dari demokrasi. Ilmuan itu harus meneliti bagaimana otak mereka yang di negara-negara komunis, yang informasinya dikekang dan dipilah-pilah untuk dikonsumsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain, seperti yang kita percayai sejauh ini tanpa pernah mau kita ungkapkan, bahwa Demokrasi menjanjikan kepada negara-negara berkembang tentang sesuatu yang maju, yang modern, yang sarat dengan materi sebagai indikator. Kita mempercayainya begitu saja dengan melihat Eropa, yang kita anggap lebih dulu berkembang dan maju hingga menjadi seperti hari ini. Informasi adalah salah satu dari sekian banyak hal di dalam pusaran badai, tentu selain segala sesuatu yang mensyaratkan uang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai negara berkembang, mungkin kita telah lama terjebak pada materialisme, tanpa pernah ada yang bisa mencegahnya karena dunia kita memang ingin berkembang seperti itu. Belum lagi demokrasi dengan kebebasan yang ditawarkan, tanpa pernah kita sadar dibelakangnya terdapat kapitalisme yang otomatis menunggu dengan segala konsekuensinya yang menjebak dan memenjarakan kita. Dalam demokrasi, semua kehidupan modern ini bisa dengan mudah terlihat pada masyarakat kota. Di tengah pusaran uang dan informasi yang mempermainkan kita dengan iklan, konsumerisme, hedonisme, lifestyle, dan semua yang telah memerosotkan arti, semuanya selalu tentang uang. Semuanya selalu tentang materi, sebagai mana mereka meng-kategori-kan kita sebagai negara berkembang. Jiwa kita terjebak di sini.</p>
<p style="text-align:justify;"> Pola badai ini jelas, dari satu titik di pusat kemudian menyebar ke titik lain di hampir seluruh wilayah. Jika tak ada yang menghentikannya (atau memang karena tak bisa dihentikan), desa lambat laun berubah (diubah) dan menyebut dirinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat modern, menganggap bahwa dirinya adalah bagian dari kemajuan. Desa tak mau lagi disebut sebagai “desa” yang dengan <em>image-</em>nya sebagai tempat dimana segala ketertinggalan dan kekolotan berada. Kita lah yang men-<em>judge </em>seperti itu, bukan? Tanpa pernah kita berpikir bahwa di tengah euforia yang seperti ini, kita masih membutuhkan desa yang menawarkan hijau, alami, manusiawi, tenang, tradisi atau yang spiritual, tentu tanpa perlu terisolasi dari informasi. <span id="more-602"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin yang begini kurang lebih adalah kritik postmodern kepada yang modern. Bahwa yang modern, sebagaimana tidak pernah diperkirakan ketika revolusi industri santer dibicarakan dan ilmu-ilmu pengetahun berkembang pesat, ketika mesin uap ditemukan di Inggris pada abad akhir 18 dan awal 19. Manusia bukan hanya digantikan oleh mesin-mesin, hari ini kita tahu semuanya kebablasan, manusia seperti ingin hilang, atau paling tidak membaur atau menyaru menjadi mesin-mesin, menjadi uang-uang,  menjadi sistem—yang dibuat oleh kita sendiri. Jiwa kita entah kemana seperti tak pernah ada yang peduli atau dipedulikan. Ini seperti memang sudah digariskan oleh Tuhan. Ia, yang kita tak pernah tahu rencana-Nya, begitu besar membuat aturan main seperti ini. Aturan yang justru membuat makhuknya tanpa sadar berusaha mematikan-Nya atau paling tidak berusaha mengalahkan-Nya. Ya, semuanya tanpa sadar.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah-tengah yang aku anggap sebagai “kekacauan” ini, maka jangan heran jika wisata dan hiburan adalah barang mahal sekaligus bisnis menjanjikan. Dari sini yang tersirat adalah kita seperti tak pernah mau mengakui keberadaan yang transenden, bahwa jiwa kita selalu butuh penyegaran, kita telah terlalu lama membiarkannya. Jiwa selalu butuh tempat dan tidak mau selamanya terjebak dalam badan-badan yang lelah, yang juga terjebak.</p>
<p style="text-align:justify;">Januari ini, mungkin bulan yang sibuk bagiku. Sebelum semuanya terlambat, sebelum desa menjadi maju dan berubah bentuk. Setelah Januari yang akan sibuk ini, mungkin aku akan ke suatu desa, lalu seminggu tanpa hp, seminggu tanpa internet, seminggu tanpa televisi. Bukan ingin mengisolasi diri, tapi lebih bermakusd untuk membayar atau membalas dendam pada apa yang telah diperbuat oleh informasi kepadaku selama ini. Di sana aku akan memanjakan diri, memanjakan jiwa, dan bukan memenjarakannya. Sebenarnya kita berasal dari yang tidak ada lalu menjadi ada, dan jiwa selalu rindu pada fitrahnya yang seperti itu. Bagaimana jiwamu? Letihkah ia berada dalam dunia, dalam zaman yang gila ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Dedy Qurniawan, 7 Januari 2011, Indralaya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedyqurniawan.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedyqurniawan.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedyqurniawan.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedyqurniawan.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedyqurniawan.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedyqurniawan.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedyqurniawan.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedyqurniawan.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedyqurniawan.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedyqurniawan.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedyqurniawan.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedyqurniawan.wordpress.com/602/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedyqurniawan.wordpress.com/602/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedyqurniawan.wordpress.com/602/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedyqurniawan.wordpress.com&amp;blog=11412227&amp;post=602&amp;subd=dedyqurniawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/07/jiwa-di-dalam-modernitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80e125db61ab68b8dd3ba91cf87e79a5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedyqurniawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keledaiskop 2011</title>
		<link>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/02/keledaiskop-2011/</link>
		<comments>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/02/keledaiskop-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 10:34:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedyqurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaleidoskop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedyqurniawan.wordpress.com/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[Das sollen dan Das sein      Hanya ada dua kemungkinan yang dapat ku takar-takar saat ini, di penghujung 2011 ini. Salah satunya sedang terjadi saat (aku menulis) ini. Kemungkinan pertama adalah aku berada di suatu tempat,  di ketinggian sekitar 2000-2500 di atas permukaan laut pada sudut Kota Palembang, pada sebongkah batu -batu khas perbukitan- yang <a href="http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/02/keledaiskop-2011/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedyqurniawan.wordpress.com&amp;blog=11412227&amp;post=596&amp;subd=dedyqurniawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><em>Das sollen </em>dan<em> Das sein</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">     Hanya ada dua kemungkinan yang dapat ku takar-takar saat ini, di penghujung 2011 ini. Salah satunya sedang terjadi saat (aku menulis) ini. Kemungkinan pertama adalah aku berada di suatu tempat,  di ketinggian sekitar 2000-2500 di atas permukaan laut pada sudut Kota Palembang, pada sebongkah batu -batu khas perbukitan- yang menjorok keluar, yang di sana aku bisa duduk bersilah menghadap seluruh pusat keramaian kota dengan bebas seluas putaran mata memandang. Di sekitarnya, tidak ada apa-apa  selain aku dan sebongkah batu tersebut dan rerumputan yang lapang, yang hijau, yang rata, dan yang basah. Kemudian atapnya adalah bintang gemintang yang terang berserakan sekenanya di langit seperti dilempar-lemparkan orang di sembarangan tempat sesuka hatinya di jagat langit sana. Suasana cahaya yang cerah tapi bukan terang, mungkin tepatnya redup tapi tidak cerah—kira-kira redup seperti warna sephia yang belum pernah kita lihat pada senja manapun di bumi ini. Aku akan ada di sana memperhatikan tingkah pola kota lalu menulis sesuatu tentang apa pun itu, mungkin tentang kembang apinya pada malam pergantian tahun ini, tentang aku yang menebak-nebak suara-suara apa yang menimbulkan kebisingannya, tentang urusan-urusan masing-masing orang di sana yang aku perkirakan dari jauh &#8212; seadanya dan semampunya kugambarkan berdasarkan gerakan lampu-lampu kendaraan dan lampu rumah mereka. Atau tentang yang paling ingin ku lihat dari sana misalnya salah satunya adalah (seandainya ada) dua arah cahaya dari dua lampu sorot seperti pada mercusuar di pulauku yang berusaha saling silang menyilang, menusuk-nusuk langit kota yang kotor di atasnya. Aku hanya ingin keadaan dan tempat yang seperti itu, menekap lutut, sambil mendongak dan memandang kota di tempat yang seperti itu. Hanya sesederhana itu.</p>
<p style="text-align:justify;">     Maka ini adalah kemungkinan kedua : aku berada di ruangan sempit yang berantakan oleh buku-buku yang belum selesai dibaca, kipas angin yang dalam posisi <em>on level</em> 3 paling rendah, televisi yang sibuk menonton dirinya sendiri, lalu kabel-kabel mengular yang semuanya semaunya. Sebotol kecil coca-cola yang telah habis dengan kacang kulit yang setengah pun belum berkurang, dan sekotak Sampoerna yang isinya tinggal dua batang. Aku duduk bersilah di atas kasur lipat, sekenanya, seenaknya dan senyaman-nyamannya lalu menulis ini, menulis tentang sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai refleksi tahunan sambil sesekali mendengar suara ledakan mercon, yang tanpa harus kupastikan kembali di luar sana, sesaat setelah ledakan itu maka langit pasti menjadi berwarna merah berkembang-kembang yang sebentar.</p>
<p style="text-align:justify;"> Berhubung kemungkinan pertama itu mustahil untuk terjadi, maka kemungkinan kedua ini lah yang sedang terjadi saat (aku menulis) ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, dua kemungkinan di atas seperti apa yang orang-orang istilahkan dengan <em>“das solen”</em> dan <em>“das sein”-</em>- yang seharusnya dan yang senyatanya. Apa yang aku inginkan, dan seperti apa kenyataannya sekarang.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Paradoks Waktu</strong></p>
<p style="text-align:justify;">     Aku jadi teringat salah satu buku tentang filsafat—yang kebetulan aku lupa buku apa,ah aku memang sering lupa soal buku-buku yang telah kubaca, sering berikut siapa pengarangnya juga, padahal ini penting sekali&#8211; katanya  di situ, di buku itu, bahwa untuk menjadi kritis di hadapan seseorang kau hanya perlu tanyakan padanya apa dan bagaimana sebenarnya “waktu” ? <span id="more-596"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Karena senyatanya, waktu tak pernah simpel. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa waktu adalah sebuah garis lurus (linear), dan sama sekali bukan penafsiran kaku sebagian orang lain yang menyebut waktu hanya sekedar detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal waktu sebagai sebuah garis lurus, manusia sendiri merupakan bagian dari dalam garis tersebut sehingga mereka punya konsep sendiri-sendiri tentang waktu, konsep-konsep itu  berisi pengalaman dan segala susuatu yang terjadi selama hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memudahkan manusia maka waktu sebagai garis lurus tadi diberi batas-batas atau sekat atau lebih tepat disebut dengan skala interval. Tujuannya agar dapat dengan mudah menghitung berapa usia kita, menghitung kapan harus membayar tagihan listrik, berapa lama kita telah bekerja dan sebagainya. Skala waktu yang digunakan untuk mempermudah manusia ini batasnya tegas dan jelas : millenium, abad, dekade, windu, tahun, bulan, jam, menit, detik dan seterusnya. Gunanya pun jelas, yaitu agar hidup kita dapat lebih teratur. Bayangkan betapa kacaunya bandara-bandara Internasional yang sangat menghargai ketepatan waktu dalam pemberangkatan pesawat-pesawatnya jika &#8220;detik&#8221; dan &#8220;menit&#8221; ini kita hapus.</p>
<p style="text-align:justify;">Skala interval ini lah yang sering membuat kita kikuk memaknai waktu. Karena pada dasarnya mau sebanyak apapun manusia ingin membuat skala, batas, atau sekat pada waktu dalam rangka mempermudah hal apa pun, tentu tak akan mengubah waktu sebagai garis lurus, karena sejatinya waktu tetaplah sebuah garis lurus.  Namun jika ditanyakan dimana dan kapan pertama kali pangkal garis itu bermula? Jawabannya akan terus menuntut kita bertanya seperti apa dan bagaimana pertama kali hal ihwal dunia ini terbentuk, dan untuk itu tak pernah lagi menemukan jawaban mengenai waktu yang jelas setegas konsep kita tentang berapa hari dalam setahun, setahun berapa bulan, sebulan ada berapa hari, dan sehari itu 24 jam, dalam tiap jam ada 60 menit kemudian seterusnya. Di dalam garis lurus waktu, konsep sekat waktu itu tak ada arti lagi kecuali pengalaman-pengalaman yang kita kenang dan ingat yang terkandung di dalamnya. Pengalaman-pengalaman seseorang dan seseorang lain dan seorang lain lagi yang terdahulu dari yang terdahulu lagi adalah estafet yang berkelanjutan yang tak pernah jelas kapan di mulai dan kapan akan berhenti, dan begitulah realitas dunia saat ini, sampai sekarang ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah jika begitu, maka akan muncul pertanyaan selanjutnya, apakah di dalam waktu itu terdapat ruang tempat kita berada, atau di dalam ruang itu lah justru terdapat waktu yang di dalamnya kita berada? Atau keduanya saling melengkapi? Dunia yang membentuk waktu atau waktu yang membuat dunia? Lalu, seperti apa dan bagaimana yang dimaksud dengan dunia? Seperti apa dan bagaimana yang dimaksud dengan waktu? Jawablah! Kalau kau tanya aku, maka aku telah menenggak 10 butir paramex sebelum kau bertanya. Sebelum kau bertanya, aku sudah pusing tujuh keliling menjawabnya sendiri, lalu membantahnya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">            Yang sering luput dari kekikukan kita memaknai waktu adalah adalah kita sering salah kaprah terhadap kepahitan, kesalahan dan semua yang tidak diharapkan yang terjadi di antara sebuah sekat dan sekat lain (dalam hal ini misalnya sekat waktu antara tahun 2010 dan 2011) dengan menganggap bahwa akhir tahun seperti malam ini adalah akhir dari segalanya dan menganggap bahwa tahun baru adalah buku baru, lembaran baru yang masih kosong, putih dan bersih, sama sekali belum ada cacat. Hal ini tentu menyepelehkan masa lalu dalam konsep waktu sebagai garis lurus karena segagal apapun kita, kesalahan apapun yang kita buat, dalam konsep waktu sebagai garis lurus kita tak pernah dapat mengubahnya begitu saja, mengakhirnya dengan enteng mengatakan bahwa tahun baru adalah buku baru atau lembaran baru hanya karena sekat-sekat yang kita buat sendiri. Tentu tak sesederhana itu, karena ada beberapa hal yang tidak bisa disekat-sekatkan manusia terhadap waktu begitu saja, tak peduli itu dalam tahun, windu, dekade atau abad.  Misalnya  ingatan, kenangan, catatan-catatan sejarah yang semuanya tak peduli pahit ataupun manis adalah realitas hidup sebagai sebuah garis lurus. Kita hari ini adalah hasil dari kita di hari-hari yang lalu. Manusia bisa melupakan tapi tak pernah bisa mengingkari apalagi menghilangkan masa lalu. Sekat-sekat yang kita buat tak akan pernah bisa memisahkan kita dari sebuah garis lurus begitu saja. Yang aku utarakan seperti ini mungkin dikenal oleh orang-orang psikologi sebagai <em>The Time Paradoks.</em></p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">     Malam 31 Desember di akhir tahun 2004  dan awal 1 Januari 2005, aku dan teman-temanku berada di sebuah bukit di tepi Kota di Pulau kami, Bukit Manggis yang menghadap ke kota kami, tepat di sebelah bukit Pao. Di sana lah aku menutup sekat dan membuat sekat baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sendiri ada dalam pelarianku dari rumah sebagai remaja tanggung yang lahir di sebuah keluarga yang tak mengenal tradisi tahun baru, ulang tahun dan sebagainya. Bagi keluargaku tradisi seperti itu tak ada dalam ajaran agama kami, bukan, tepatnya ada tapi tidak pernah berlebihan. Dalam pelarianku yang ingin merasakan tahun baru bersama teman-teman yang merupakan begundal-begundal di sekitar rumahku itu –mungkin oleh karena itu pula lah aku tak di izinkan— ,aku menemukan satu-satunya malam tahun baru paling berkesan sepanjang hidupku. Memandang langit malam itu di atas sebongkah batu adalah sebuah keasikan tersendiri. Kami berlima menghadap ke kota bersejajar mendongak, menyaksikan bersama-sama kepongahan ledakan-ledakan di langit-langit di tengah kota. Adakalanya kabut menyelimuti bukit dan menghalangi pandangan kami kepada kota yang sedang pesta. Jika sudah seperti itu, yang kami lakukan adalah memain-mainkah cahaya senter dan mengarahkannya ke arah kabut seolah-olah bisa membersihkan pandangan dan menghalau kabut pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Paginya, pada puku 7 atau 8 pagi aku di buat terkagum-kagum pada tiga hal, pertama : dari atas bukit aku bisa melihat garis pantai yang mengelilingi pulauku, kedua : aku bisa melihat bandara kotaku lengkap dengan satu atau dua pesawat terbang lepas landas pada pagi itu, dan ketiga : aku terkaget-kaget melihat sebuah komplek perkuburan cina –yang kami sebut Pendem—menjadi begitu indahnya pada pagi hari, jauh dari kesan seram. Marmer-marmer yang melapisi kuburan-kuburan besar sebesar mobil pick up yang jumlahnya ribuan itu memendarkan cahaya matahari pagi yang kuning, indah bukan buatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, <em>das solen</em> ku sebelumnya sebenarnya adalah keinginannku, harapanku untuk mengulangi atau memperbaiki hal-hal seperti awal tahun 2005 dulu. Memperbaikinya dengan mengurangi apa yang seharusnya tak ada pada awal tahun 2005, yaitu teman-teman yang begundal dan pemabuk. Aku hanya ingin seorang diri memandang kota dari sebuah sudut di kejauhan namun masih tetap terjangkau pandang.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, pada sekat waktu yang lain. Aku tak pernah lagi merayakan tahun baru di tempat-tempat yang tinggi. Seperti yang terakhir misalnya, akhir tahun 2010 menyambut 2011, aku dan teman-teman  merayakan tahun baru sebagaimana hampir sama dengan sebagian pemuda-pemuda di kota lainnya. Keliling kota bersepeda motor, meledakkan mercon dan kembang api di tengah jalan raya yang di jaga polisi sambil mengatur lalu lintas, menantang atau mengolok-olok mereka  dengan memain-mainkan tali gas motor karena hanya pada malam itu di jalan raya, kami bisa bebas tidak menggunakan helm. Kami merasa jagoan disaat polisi tak bisa mengangkap kami, sesederhana dan sekonyol begitu saja sebabnya. Menjelang puncak akhir tahun, setelah berkeliling kota dan hura-hura sejalanan raya kemudian kami berkumpul bersama di pusat (alun-lun) kota bersama warga kota yang lain dan melihat kembang api yang dipersembahkan pemerintah. Saat itu lah, aku menyimpulkan sesuatu tentang apa itu tahun baru, bahwa tahun baru bagiku mungkin adalah suatu waktu yang membuat batas jelas berjarak antar pemerintahan dan rakyat menjadi kabur lalu hilang dan membaur, hanya pada saat itu. Ketika pertunjukkan kembang api habis, kami kembali lagi ke markas -biasanya rumah salah satu dari kami yang ditetapkan sebagai pusat perayaan kedua setelah pusat kota&#8211; untuk melanjutkan acara panggang-panggang ayam dan ikan, tentu sebagian teman-temanku mabuk-mabukkan minuman keras dan cekikan yang tertahan karena ganja dan parno dengan polisi. Hanya aku yang sadar dan mereka tidak, mereka mabuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemabuk di akhir atau awal tahun bagiku adalah pecundang, menyambut dan mengawali tahun dengan tidak sadar. Pengecut. Tapi biar pengecut mereka tetap temanku, tak pernah aku mau mengingkari itu. Aku yang konsisten tidak pernah terpengaruh (kecuali terpengaruh rokok yang masih kupercayai sebagai racun dari surga sampai saat ini) hanya ingin menjadi orang yang menurutku sebagai bukan orang yang pengecut, melainkan pemberani dengan mengakhiri tahun dengan sadar, begitu saja. Tapi, tampaknya aku salah, bahwa temanku mungkin saja hanya memandang mabuk di malam tahun baru sebagai bagian dari &#8220;<em>lifesttyle&#8221; </em>? Ah, mereka. Kapan mau berhenti ikut-ikutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka itu lah sebab kenapa aku di sini, di kosan ini, di ruangan yang sempit ini tak ingin melewatinya dengan hal-hal yang pesta pora, pongah seperti setahun dan beberapa tahun yang lalu. Aku hanya mau melewatinya tanpa hal-hal yang menurutku tak seharusnya. Tak seharusnya pesta, tak seharusnya foya-foya, tak seharusnya mabuk-mabukkan. Keluargaku benar dalam hal ini : tak seharusnya berlebihan. Ini satu-satunya resolusiku yang berhasil untuk tahun 2011, selain berhenti merokok, wisuda dan mendapatkan kerja. Sayangnya untuk ketiga yang kusebutkan terakhir belum tercapai. Akhir tahunku tak jelek-jelek amat.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai sejauh ini bahwa yang ingin ku katakan adalah memang tidak semudah itu kita bilang tutup tahun karena kenangan dan seperti apa masa lalu (sejarah)-mu akan menentukan seperti apa yang kau inginkan dan apa yang ingin kau perbaiki. Seperti apa yang aku inginkan dan harapkan untuk berada di kesepian sudut kota memandang dan menikmati keramainnya dengan caraku sendiri, dan seperti apa aku senyatanya saat ini, berada di ruangan sempit yang berantakan.  Aku hanya tidak ingin seperti keledai&#8211; yang entah siapa memulai cerita bahwa keledai digambarkan sebagai binatang bodoh yang selalu terperosok pada lubang yang sama&#8211;. Seperti hari ini aku yang hanya tidak ingin menjadi keledai sambil menulis sesuatu yang kusebut keledaiskop.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekian…</p>
<p style="text-align:justify;">1 Januari 2012, Happy New Year!</p>
<p style="text-align:justify;">(nb : ditulis sepenuhnya dengan OST One and Only, Don’t You Remember dan Someone Like You- nya Adele)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedyqurniawan.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedyqurniawan.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedyqurniawan.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedyqurniawan.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedyqurniawan.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedyqurniawan.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedyqurniawan.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedyqurniawan.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedyqurniawan.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedyqurniawan.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedyqurniawan.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedyqurniawan.wordpress.com/596/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedyqurniawan.wordpress.com/596/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedyqurniawan.wordpress.com/596/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedyqurniawan.wordpress.com&amp;blog=11412227&amp;post=596&amp;subd=dedyqurniawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2012/01/02/keledaiskop-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80e125db61ab68b8dd3ba91cf87e79a5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedyqurniawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Out of The Box&#8221;</title>
		<link>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2011/10/21/out-of-the-box/</link>
		<comments>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2011/10/21/out-of-the-box/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 04:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dedyqurniawan</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://dedyqurniawan.wordpress.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Out of The Box, ini sudah menjadi seperti adagium yang berasal dari surga. Saya tidak pernah tahu dan paham dari mana istilah ini berasal. Semua pemahaman, makna, kesan yang timbul dan melekat pada istilah tersebut selalu mengesankan sesuatu yang istimewa, yang beda. Di sisi lain, kita semakin menjadi sulit mengerti : bagaimana dan seperti apa <a href="http://dedyqurniawan.wordpress.com/2011/10/21/out-of-the-box/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedyqurniawan.wordpress.com&amp;blog=11412227&amp;post=591&amp;subd=dedyqurniawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Out of The Box</em>, ini sudah menjadi seperti adagium yang berasal dari surga. Saya tidak pernah tahu dan paham dari mana istilah ini berasal. Semua pemahaman, makna, kesan yang timbul dan melekat pada istilah tersebut selalu mengesankan sesuatu yang istimewa, yang beda.</p>
<p>Di sisi lain, kita semakin menjadi sulit mengerti : bagaimana dan seperti apa mau-nya manusia.</p>
<p><em>Out Of The Box</em>&#8211; keluar dari kotak itu berarti ketika kita memilih untuk berada di dalam sebuah kotak, lalu kita berada di dalam kotak tersebut, maka dengan gagah kita bilang kita ingin (harus) keluar, atau paling tidak cara berpikirnya yang keluar. Berarti ada kesengajaan untuk mengingkari pilihan dan konsekuensi dari pilihan yang kita buat sendiri, tanpa sadar. Misalnya, ketika kita memilih menjadi mahasiswa, maka kita memutuskan untuk masuk kotak, kotak tersebut bernama mahasiswa. Kita mengikuti SPMB atau tes untuk masuk, lalu kemudian berhasil masuk. Ketika masuk, maka konsekeunsi yang timbul dari pilihan kita untuk masuk kotak bernama mahasiswa tersebut&#8211; mau tidak mau, suka atau tidak suka&#8211;  harus kita terima. Lalu kenapa harus out of the box, kasarnya mengapa harus mengingkari pilihan kita sendiri?</p>
<p>Manusia, termasuk saya, sulit sekali untuk dimengerti.</p>
<p>Apakah mata dunia memang menginginkan untuk melihat sesuatu yang nyeleneh, yang beda, yang lain dari yang lain. Sesuatu yang beda mungkin pada beberapa hal masih bisa dikatakan wajar. Tapi, sampai pada batas-batas tertentu, kadang ini kelewatan dan menimbulkan patologi dalam kumpulan-kumpulan manusia. Misalnya, ketika kita menjadi laki-laki, lalu <em>out of the box</em>, jadilah banci. Semakin parah ketika ini kita terapkan pada hukum, norma, etika  dan sejenisnya di mana pada kotak-kotak tersebut harus jelas dan tegas pada garis-garis dan sisi yang membatasinya, lalu out of the box, maka kemudian ini menghasilkan semacam kekacauan tersendiri. Pada hukum misalnya, hasilnya kita memang out of the box, tepatnya bukan keluar, tapi pindah ke <em>box</em> lain, yaitu ke penjara.</p>
<p>Bisa jadi pemahaman saya yang keliru, kalaupun iya begitu, anggaplah sebagai sebuah lelucon. Atau begini saja, anggap saja pemahaman saya tentang <em>“out of the box”</em> yang<em> out of the box.</em></p>
<p>Satu hal yang pasti dan saya pahami, manusia memang tidak pernah suka dibatasi. Dan dunia adalah kotak yang berisi banyak kotak-kotak&#8211; yang di balik dan di dalamnya bersembunyi manusia-manusia yang memang tidak pernah puas.</p>
<p>De_Qu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedyqurniawan.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedyqurniawan.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedyqurniawan.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedyqurniawan.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dedyqurniawan.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dedyqurniawan.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dedyqurniawan.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dedyqurniawan.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedyqurniawan.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedyqurniawan.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedyqurniawan.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedyqurniawan.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedyqurniawan.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedyqurniawan.wordpress.com/591/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedyqurniawan.wordpress.com&amp;blog=11412227&amp;post=591&amp;subd=dedyqurniawan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedyqurniawan.wordpress.com/2011/10/21/out-of-the-box/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80e125db61ab68b8dd3ba91cf87e79a5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedyqurniawan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
